BSAoGpGpTpAlGSC9GpW8TSW5Gd==

Buku Reset Indonesia. Catatan Perjalanan yang Mengguncang Cara Kita Melihat Indonesia.

Pernah nggak sih kamu berhenti sebentar dan mikir, “Kenapa air keran di Indonesia nggak bisa langsung diminum?” Pertanyaannya terdengar sederhana. B

 

Foto : GNM

Pernah nggak sih kamu berhenti sebentar dan mikir,

“Kenapa air keran di Indonesia nggak bisa langsung diminum?”

Pertanyaannya terdengar sederhana. Bahkan cenderung dianggap remeh.

Tapi justru dari pertanyaan kecil itu, kita dipaksa membuka mata: ada sesuatu yang salah dengan cara negeri ini dikelola.

Soalnya ini bukan cuma soal air.

Ini soal lingkungan yang rusak, sumber daya alam yang dieksploitasi, kebijakan yang timpang, kekuasaan yang terlalu jauh dari rakyat, sampai sistem politik yang terasa makin nggak nyambung dengan kehidupan sehari-hari.


Dari kegelisahan itulah Reset Indonesia lahir.

Buku ini bukan hasil riset singkat atau opini dadakan. Ia adalah rangkuman perjalanan panjang—lebih dari 15 tahun ekspedisi jurnalistik—yang dilakukan oleh empat jurnalis lintas generasi:

Farid Gaban (Boomer),

Dandhy Laksono (Gen X),

Yusuf Priambodo (Milenial),

dan Benaya Harobu (Gen Z).

Empat generasi, empat sudut pandang, satu kegelisahan yang sama:

Indonesia punya masalah besar yang selama ini cuma dipoles, bukan diselesaikan.


Lewat Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009–2010), Indonesia Biru (2015–2016), dan Indonesia Baru (2022–2023), mereka menyusuri Indonesia dari jarak yang sangat dekat. Bukan dari atas peta, tapi dari tanah yang dipijak langsung.

Dari Nol Kilometer di Pulau Weh, Aceh, sampai ujung aspal di perbatasan Sota, Papua.

Dari desa yang tanahnya dirampas, hutan yang digunduli, laut yang tercemar, hingga masyarakat adat yang terus dipinggirkan.

Di lapangan, mereka melihat langsung konflik agraria yang tak kunjung selesai, ketimpangan sosial yang diwariskan turun-temurun, dan krisis lingkungan yang dampaknya kini mulai kita rasakan bersama—banjir, kekeringan, udara kotor, hingga krisis air bersih.


Tapi cerita Indonesia nggak cuma berhenti di pinggiran negeri.

Mereka juga masuk ke jantung kekuasaan.

Ada di gedung DPR saat undang-undang dibahas.

Ada di jalanan ibu kota saat kerusuhan terjadi.

Ada di lingkaran kebijakan, ruang politik, dan pusat pengambilan keputusan.

Dari sanalah benang merah itu makin terlihat jelas:

masalah lingkungan nyambung ke politik,

politik nyambung ke ekonomi,

ekonomi nyambung ke kekuasaan,

dan ujung-ujungnya, rakyat selalu jadi pihak yang paling lama merasakan dampaknya.

Reset Indonesia kemudian menyusun semua itu dengan rapi—bukan sekadar curhat atau kemarahan, tapi lewat data, teori, dan laporan lapangan yang detail. Banyak fakta yang mengejutkan. Banyak pula yang bikin nggak nyaman.

Tak heran kalau buku ini sering dianggap sensitif. Narasinya kerap berseberangan dengan versi resmi pejabat. Diskusi-diskusi publiknya memicu perdebatan panas. Bahkan, di beberapa daerah, bedah bukunya sempat dibubarkan secara paksa.

Namun justru di situlah letak keberaniannya.

Buku ini secara terang-terangan mengajak kita mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap normal:

Kenapa konflik agraria terus berulang?

Kenapa demokrasi terasa mahal tapi hasilnya minim?

Kenapa sumber daya alam melimpah tapi ketimpangan makin lebar?

Dan kenapa setiap krisis selalu dibebankan ke rakyat?

Yang membuat Reset Indonesia terasa relevan hari ini adalah fokusnya pada anak muda. Buku ini sadar betul, bonus demografi bisa jadi peluang emas—atau justru bencana—kalau generasi muda hanya jadi penonton, bukan subjek perubahan.

Alih-alih menggurui, buku ini mengajak berpikir ulang. Mengajak pembacanya berani “mereset” cara pandang lama, keluar dari pola pikir warisan sistem yang sudah terbukti bermasalah.

Ini bukan buku yang menawarkan solusi instan atau janji manis.

Ia tidak berkata, “Inilah jawaban finalnya.”

Sebaliknya, Reset Indonesia menawarkan sesuatu yang lebih penting:

kesadaran, keberanian bertanya, dan peta untuk memahami akar masalah.

Kalau Indonesia hari ini terasa seperti sistem yang penuh error—mungkin memang sudah saatnya kita berhenti menambal satu per satu.

Mungkin yang dibutuhkan bukan update kecil, tapi reset besar-besaran.

Dan reset itu, mau tak mau, harus dimulai dari kita.


Foto : Shopee, Patjarmerah

Dapatkan produk bukunya dengankualitas premium dan original DISINI






0Komentar

Tambahkan komentar

INFORMASI LAIN

  • Info Sekretariat, Alamat : Dusun Puhun RT 028 RW 007 No. 21, Desa Cikeusal, Kecamatan Cimahi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kode Pos 45582.
  • NO HP (WA) : 0895340418995
  • EMAIL : gemilangnusantaramedia@gmail.com

INFORMASI UMUM

myPhoto
Gemilang Nusantara Media
Kabupaten Kuningan Jawa Barat, Jawa Barat, Indonesia, Indonesia
Lihat profil lengkapku